Nasihat Untuk Para Mu’adzin Yang Terburu-buru

February 28, 2009 at 7:00 am 4 comments

Sebenarnya ini merupakan unek-unek lama yang belum sempat saya sampaikan, khususnya kepada para takmir (mu’adzin) masjid Al *****ri di Bogor. Sering saya menjumpai kejadian yang bikin kesel, yakni ketika shalat sunnah qabliyah, mu’adzin mengumandangkan iqamah sebelum saya sempat selesai mengakhiri shalat. Padahal saya shalat setelah adzan, dan bersamaan dengan mu’adzin tersebut. Tapi entah kenapa mu’adzin tersebut selalu terburu-buru untuk segera mendirikan shalat berjama’ah pada awal waktunya.

Benarkah sikap mu’adzin tersebut? Mari kita baca artikel di bawah berikut ini dengan kasus yang serupa. Alhamdulillah saya punya hujjah untuk menasihati mereka, minimal lewat blog ini.

Permasalahan
Bagaimana hukumnya jika mu’adzin iqamat pada saat masih ada yang shalat sunnah qabliyah, namun mu’adzin tersebut beralasan bahwa yang shalat sunah itu datangnya terlambat, yaitu setelah yang lainnya sudah selesai shalat sunah, dan ia (mu’adzin–pen) ingin segera mendirikan shalat pada awal waktu? (artinya tidak mau menunggu lama).

Jawaban
Pertama perlu diketahui bahwa adzan disyariatkan untuk memberitahukan bahwa waktu shalat telah masuk dan untuk mengundang umat islam untuk melakukan shalat berjama’ah di masjid. Oleh karena itu perlu diberi waktu yang cukup antara adzan dengan iqamat, agar jama’ah dapat bersiap-siap datang ke masjid. Jika tidak, maka fungsi adzan menjadi sia-sia dan hilang pula kesempatan bagi orang banyak untuk shalat berjama’ah di masjid.

Bagaimana mungkin seorang mu’adzin mengajak shalat berjama’ah dengan seruan “hayya ‘alash – shalaah”, lalu ia tidak bersabar menanti dan tergesa-gesa melakukan iqamat tanpa memperhatikan jama’ah yang sedang berwudhu atau sedang berdatangan?!

Ketika adzan dikumandangkan, tentu banyak jama’ah yang belum berwudhu. Kemungkinan di antara jama’ah ada yang sedang bekerja, makan, minum, tidur, buang hajat, atau lainnya, sehingga perlu diberi waktu untuk bersiap-siap. Demikianlah yang diperintahkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau:
Jadikanlah antara adzanmu dengan iqamahmu kelonggaran seukuran mu’tashir (orang buang hajat) menyelesaikan hajatnya dengan tenang, dan seukuran orang makan selesai dari makannya dengan tenang.” [HR Tirmidzi no 195, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no 887]

Kemudian praktek Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa yang memerintahkan atau mengizinkan mu’adzin melakukan iqamat adalah imam, sehingga menetapkan waktu iqamat merupakan hak imam, bukan hak mu’adzin.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata. “Tidak boleh menyegerakan iqamah hingga imam memerintahkannya. Jarak (antara adzan dan iqamat) itu sekitar seperempat jam (15 menit) atau sepertiga jam (20 menit), atau yang mendekatinya. Jika imam terlambat dalam waktu yang cukup lama, diperbolehkan yang lainnya untuk maju menjadi imam” [Ensiklopedi Shalat, Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Pustaka Imam Syafi’I, 1/227]

Selain itu hendaklah seorang muslim menyukai kebaikan pada saudaranya sebagaimana ia menyukai kebaikan itu pada dirinya sendiri, sebagaimana hadits:
Dari Anas, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Seseorang di antara kalian tidak beriman sehingga ia mencintai (kebaikan) saudaranya yang ia cintai untuk dirinya”.

Apakah seseorang senang, jika ketika ia sedang shalat sunah, lalu iqamat dikumandangkan? Tentu ia tidak senang. Oleh karena itu. hendaklah mu’adzin bersabar sebentar untuk menantinya. Namun, jika memang sudah cukup lama jarak antara adzan dan iqamat, dan imam sudah datang dan mengizinkan iqamat, maka tidak mengapa iqamat dikumandangkan. Wallahu a’lam.

[Dinukil dari majalah As-Sunnah Edisi04/tahun XII rajab 1429H/Juli 2008M]

Demikianlah yang bisa saya nukil, semoga bisa bermanfaat bagi kita.

Entry filed under: Fatawa. Tags: , , , , .

APA BEDA ISLAM DAN IMAN? Berobat ke Dukun, Bolehkah?

4 Comments Add your own

  • 1. kyra.curapix  |  July 25, 2008 at 8:16 am

    thanx artikelnya keren!!!

    Reply
  • 2. Fikri Faris  |  March 2, 2009 at 10:36 am

    mencerahkan, insyaAllah ^L^
    banyak yg mengalami hal ini.

    Reply
  • 3. bayu200687  |  March 5, 2009 at 9:57 am

    betul bro. di masjid kantor saya juga begitu. pengen bangetz rasanya saya ajah yg jadi muadzin.
    btw, gimana klo imamnya dah menyuruh utk iqomat dalam waktu yg teramat sangat singkat sekali itu?
    pengen rasanya shalat rawatib dg bacaan surah yg lumayan panjang. lha klo di masjid kantor, baca al ikhlas n al kautsar pun seringnya udah iqomat

    Reply
    • 4. rismaka  |  March 10, 2009 at 8:22 am

      Klo imamnya yg nyuruh ya kita tetap harus ikut imam. Imam dijadikan pemimpin shalat utk diikuti. Allahu a’lam

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


CATATAN KECILKU

Assalamu'alaikum.

Selamat datang di Rismaka On WordPress.

Free Page Rank Tool

DOWNLOAD

Download Ebook Islami Bermanhaj Salaf Download Aplikasi Java Islami download update terbaru antivirus PCMAV

Tempat Backup Gratis

dropbox-banner

RSS RISOFTE

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Rismaka’s Weblog

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Shaquille Punya Blog

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 66,841 hits

RSS Download PCMAV Terbaru

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: