Habaib oh Habaib, Kenapa Engkau Baru Sadar Sekarang?

April 2, 2009 at 4:40 pm 34 comments

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan email dari seseorang yang menyertakan sebuah artikel tentang seruan para habaib (orang yang mengaku sebagai ahlul bayt atau keturuanan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) untuk tidak merayakan maulid nabi.

Bagi saya ini adalah kabar yang mengejutkan, karena seperti yang kita tahu dan pahami pada umumnya -khususnya di Indonesia- bahwasanya para habaib tersebut justru menyerukan atau mungkin sebagai pelopor untuk merayakan acara maulid nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebuah berita yang cukup menggembirakan –Jika memang seandainya benar– bagi kita salafiyyin karena perayaan maulid nabi merupakan perayaan bid’ah (sesuatu yang baru dalam agama yang diada-adakan), sehingga jikalau seandainya para habaib tersebut sadar dan kembali ke jalan sunnah, fasubhanallah yang telah memberikan taufik dan hidayahNya pada mereka.

Hanya saja sangat disayangkan ikhwan yang mengirimkan email tersebut tidak menyertakan sumber artikelnya, sehingga bagi siapapun yang membaca artikel tersebut mohon untuk mengklarifikasi akan kebenarannya. Sekali lagi bahwa saya pribadi belum menjamin berita ini benar atau tidak, hingga saya tahu sumber beritanya. Nah bagi pembaca yang mungkin tahu akan berita ini, dimohon untuk memberitahukan kepada saya khususnya di kolom komentar di bawah, agar pembaca yang lain pun dapat mengetahui kebenarannya.

Update: Sumber telah diketahui dan memang berita tersebut valid insya Allah. Silahkan merujuk pada artikel berikut http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=863

By rismaka

Berikut ini saya kutip seluruh artikel yang dikirimkan kepada saya:

================================================

Kalangan Habaib Serukan Untuk Tidak Merayakan Maulid Nabi

Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawa nafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan “Maulid Nabi” dengan dalih “Cinta Rasul”, dan berbagai acara yang menyelisih syari’at, yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’I al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir “Islam Today,” para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru “Ittiba’ yang benar”.

Mereka (Para Habaib) menambahkan, “Di antara fenomena yang menyakitkan adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara syi’ar-syi’ar tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta.

Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hal itu dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu. Dan lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” [HR. al-Bukhari]

Sedangkan seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan, “Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in.

Para Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait, “Wahai Tuan-tuanYang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah swt, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

desertprayer1

Berikut ini adalah teks pernyataannya:

Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang Peringatan/ perayaan Maulid Nabi.

Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syariat yang beliau bawa adalah syariat yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” [QS. 5:3]

Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keyakinan atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia.” [HR. al-Bukhari & Muslim]

Beliau adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si empu Tempat yang Mulia, Telaga yang akan dikerumuni (oleh manusia), si empu bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. al-Ahzab: 21]

Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku.” [HR. Muslim]

Maka Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman,

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [An-Nisa’: 65]

Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru “Ittiba’ yang benar”. Allah Ta’ala berfirman,

“Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali ‘Imran: 31]

Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlul bait) haruslah sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan tidak menyalahi atau menyelisinya.

Dan di antara fenomena menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah Ta’alA pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’I al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mengikuti (ittiba) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah komitmen dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syariat Islam.

Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,

“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” [HR. al-Bukhari]

Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.

Dan perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.

Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa pengecualian di dalamnya,

“Semua bid’ah itu sesat.” [HR. Muslim].

“Wahai Tuan-tuanYang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul/ nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah swt, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)! Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak mengajarkan petunjuk beliau! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata karena kedekatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah lelulur kalian dengan meninggalkan bid’ah dan seluruh yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda,

“Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut.” [HR. Muslim].

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin

Yang menanda tangan risalah di atas:

  1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial “Adhdhamir al-Khairiyah” di Traim)
  2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)
  3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.
  4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum “Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’I di Ghail Bawazir)
  5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).
  6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).
  7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).
  8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar as-Saniyah)
  9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).
  10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala
  11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)
  12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha).

Abu Abdurrohim (pengirim email-red)

================================================

Iklan 1 ==> Ada cerita menarik mengenai Perayaan Maulid Nabi, yang bisa dibaca di artikel ini

Iklan 2 ==> Download ebook islami bermahaj salaf insya Allah di sini

Iklan 3 ==> Sebuah kampanye damai untuk pemilu Indonesia 2009

================================================

Update: Sumber telah diketahui dan memang berita tersebut valid insya Allah. Silahkan merujuk pada artikel berikut http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=863

Sekali lagi bahwa saya belum mengetahui kebenaran tentang berita tersebut di atas. Maka hendaknya para pembaca yang telah mengetahuinya dimohon untuk mengiyakan dan menyertakan sumber validnya jika memang benar, ataupun menolaknya jika ternyata berita tersebut salah. Allahu a’lam.

Kita berharap semoga saja berita tersebut benar, Allahumma amin.

Entry filed under: info. Tags: .

Siapakah yang Harus Bertanggung Jawab?! NOTD

34 Comments Add your own

  • 1. Cipzto  |  April 2, 2009 at 9:25 pm

    sayang ya gak ada sumbernya🙂

    Reply
    • 2. rismaka  |  April 2, 2009 at 9:32 pm

      Cepet banget siy om datangnya…

      Reply
  • 3. Ton  |  April 3, 2009 at 5:55 am

    Update: Sumber telah diketahui dan memang berita tersebut valid insya Allah. Silahkan merujuk pada artikel berikut http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=863
    ——————-

    Alsofwah bilang berita itu dikutip dari situs islamtoday. Tapi gak ditulis link untuk menuju ke artikel originalnya. Berarti berita ini masih samar.

    Reply
    • 4. admin  |  April 3, 2009 at 6:35 am

      semoga ajah bener yah bang berita tersebut….

      Reply
      • 5. admin  |  April 3, 2009 at 6:36 am

        iyah, semoga bener yah…hehe

        Reply
        • 6. l5155st™  |  April 3, 2009 at 9:59 am

          yup!

    • 7. rismaka  |  April 3, 2009 at 7:03 am

      Yah, semoga aja bener mas… Klo pun ga bener anggap saja artikel ini sebagai doa biar mereka-mereka yang doyan merayakan perbuatan bid’ah tersebut pada tobat serta kembali ke sunnah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

      Reply
      • 8. l5155st™  |  April 3, 2009 at 9:58 am

        terus kok ngecek beritanya ke saya…?

        alsofwah aja ndak tau gimana lagi saya?

        Reply
        • 9. l5155st™  |  April 3, 2009 at 10:01 am

          tapi alhamdulillah, semoga habib2 yang di indonesia pada menyadari akan informasi ini…😉

  • 10. abu fadhil  |  April 3, 2009 at 9:04 am

    Semoga Habaib di Indonesia menyadari hal tersebut ….

    Reply
  • 11. Aden Kejawen  |  April 3, 2009 at 10:05 am

    Bukankah perbedaan itu biasa dan Al-Habib Al-Hafidh Al-Musnid Al-Habib Umar bin Hafidf merayakan Maulid dan juga murid2 beliau diseluruh Dunia

    Padahal jelas bahwa Habib Umar itu 1 garis keguruan dengan Rasulullah

    Baca : http://supanku.co.cc/islamika/biografi-habib-munzir-bin-fuad-al-musawwa-pimpinan-majelis-rasulullah-saw

    Semoga saja berita seperti ini bisa lebih Valid lagi sumbernya agar dapat dikonfirmasi kepada YBS

    Salam Ukhuwah

    Aden Kejawen (Murid Al-habib Quraish Al-Atthos-Logoa)

    Reply
  • 12. Aden Kejawen  |  April 3, 2009 at 10:08 am

    Tapi Alhamdulullah akhirnya orang2 Wahabi mengakui juga Eksistensi para Ahlul Bait, biasanya kan mereka selalu memandang hina para Ahlul Bait

    Terima kasih atas Sharingnya, sungguh menambah informasi dan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah

    “Allah dan Malaikat Sholat/wat keatas Nabi (Muhammad Sholallah ‘Alaihi Wassalam), Hai Orang2 beriman Bersholat/wat dan Salam Kesejahteraan kepadanya”

    Reply
  • 13. alwi haris  |  April 3, 2009 at 11:28 am

    Ass.
    Pak pelajari dahulu apa itu bid’ah dan segala macamnya, tidak semua bid’ah membawa kaburukan, ada bid’ah Hasanah dan ada bid’ah Dholalah. janganlah menyamakan cinta kepada rasul seperti penghambaan kaum Nasrani kepada putra Maryam, jauh sekali perbedaannya antara cinta dan menyekutukan (musyrik) hati-hati Antum dalam memberikan komentar, salah-salah antum sendiri yang akan terpeleset, saran saya belajarlah anda dengan memakai pembimbing, jangan hanya cuma dengan membaca, Insya Allah akan mudah memahami perbedaan dengan cara yang santun dan tidak merasa paling benar sendiri, Wass.

    Reply
  • 14. SUNNIY  |  April 3, 2009 at 10:45 pm

    Bismillah, walhamdulillah. Assalamu’alaykum.
    1. Justru inilah diantara bukti bahwa sebenarnya orang-orang yang kalian sebut Wahaby tidaklah memusuhi ahlul bayt, bahkan merekalah sesungguhnya yang paling mencintai ahlul bayt, hanya saja terlalu banyak ahlul bid’ah yang memfitnah Wahaby, karena bid’ah-bid’ah mereka terusik oleh Wahaby. Dan Wahaby adalah nisbah kepada nama Allah Ta’ala al-Wahhab.
    2. Perusak mutaba’ah (meneladani Nabi shallallahu’alaihi wa salllam) adalah berbuat bid’ah dalam agama, yaitu mengada-adakan suatu perkara baru dalam agama (bukan dalam masalah dunia), atau mengamalkan sesuatu yang tidak berdasarkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah.
    Amalan bid’ah tertolak, tidak akan sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan inilah sejelek-jelek perkara, dan setiap bid’ah pasti sesat, sebagaimana penjelasan Nabi yang mulia shallallahu’alaihi wa sallam dalam beberapa hadits berikut ini:
    1. Hadits Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
    من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد
    “Barang siapa yang mengada-ngadakan perkara baru dalam agama kami ini apa-apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi).
    2. Hadits Aisyah radhiyallahu’anha, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
    “Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 4590).
    3. Hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma yang mengisahkan khutbah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam :
    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” (HR. Muslim no. 2042).
    4. Hadits al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    “Aku wasiatkan kalian agar senantiasa taqwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara) meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah, karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama), maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4609, Tirmidzy no. 2677).
    Setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjelaskan kepada kita bahwa semua perkara baru dalam agama yang tidak bersandar kepada dalil syar’i adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, masihkah pantas bagi kita beramal hanya karena mengikuti seorang tokoh atau mengikuti kebanyakan orang!? Dan masihkah layak kita berpendapat ada bid’ah yang baik (hasanah)!?
    Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mengatakan setiap bid’ah itu sesat, jangan lancang mengatakan ada bid’ah yang baik (hasanah).
    Maka di sinilah pentingnya ilmu sebelum beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahwa ibadah tidak boleh sekedar semangat, tetapi harus berlandaskan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh generasi awal ummat Islam. Wallohul Muwaffiq.

    Reply
  • 15. ali  |  April 6, 2009 at 3:37 pm

    1. kalo liat dr yang nandatanganin seruanya, ya gak aneh,.. sebab yang menyerukan haba’ib dari saudi sono yang gudangnya wahabi, kerna disana selain wahabi hidup dibawah tekanan…

    tapi kalo seruan ini gak benar, justru harus dipertanyakan kok da’wah menggunakan cara2 seperti ini yah?…. kok gak mengedepankan akhlaq yah??

    Reply
  • 16. SUNNIY  |  April 7, 2009 at 11:23 pm

    BIsmillah, walhamdulillah, assalamu’alaykum.
    Daripada berprasangka buruk, sebaiknya jangan lihat yang nandatanganin, tapi lihat dalil-dalilnya yang telah sangat jelas.
    Sehingga kita tidak taqlid dalam beragama, tapi kita ikuti dalil (ilmu al-Qur’an dan al-Hadits).
    Justru merupakan akhlaq yang buruk dan tercela ketika mereka memfitnah Saudi Arabia dan Wahabi, padahal al-Wahab itu nama Allah koq digunakan untuk penisbatan suatu kelompok, ini merupakan akhlaq buruk kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan juga, sejak kapan orang-orang yang kalian namakan dengan Wahabi itu menamakan diri dengan Wahabi?
    Meskipun yang sesungguhnya, nama Wahabi itu tidak jelek, karena berasal dari nama Allah. Maka berhentilah menyebut suatu kaum dengan wahabi.
    Dan ternyata orang sini baru tahu kalau keturunan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ternyata banyak yang Wahabi (menurut penamaan kalian).
    Hal ini karena terlalu banyak pelaku bid’ah memfitnah Wahabi.

    Reply
  • 17. Amatulloh  |  April 24, 2009 at 8:32 am

    Assalamu’alaykum yaa akhiy ahsan judulnya diganti dg yg lbh baik,misalnya Alhamdulillah kini para habaib…
    Krn bl membaca jdl yg antm tulis tertangkap kesan menyesali kenapa baru sadar,pdhal justru dg fakta yg antum smpkn seharusnya kt bersyukur ya kan?barokallohufiikum.wassalam

    Reply
  • 18. moeh alattas  |  April 28, 2009 at 3:21 am

    Para Ulama yang hidup di Saudi Arabia semua dalam tekanan Pemerintah Saudi. Contoh Alm. Sayyid Al-Maliki, seluruh penjuru rumahnya dipasangi kamera CCTV oleh pemerintah Saudi, Telfonnya disadap, rumahnya di mata-matai. Habib Zein bin Smith di Madinah, selalu mendapat teror dari ulama2 jahil Wahabi, Para Habaib yang menandatangi itu bisa juga ditekan oleh ulama Takfir Wahabi yang mendapat restu dari Pemerintah Saudi, jadi maklum mereka terpaksa menandatangani pernyataan tersebut. Mending Antum semua baca tentang sejarah Hitam Wahabi yang membunuh kaum muslimin beberapa abad yang lalu.

    Reply
  • 19. Abu Faqih  |  May 2, 2009 at 9:01 am

    Buat Koment diatas……

    Wahai soudaraku moeh alattas yang semoga dirahmati oleh Allah telah jelas dan begitu Gamblang sekali dalil – dalil tentang bid’ah nya acara “maulid nabi” tetapi mengapa engkau masih ” ngotot ” akan kebenaran acara tersebut.
    Kalaulah memang maulid nabi termasuk dalam Syari’at Allah yang mulia ini. tentulah Nabi Muhammad melakukan dan beliau sampaikan kepada umatnya. tapi kenyatannya tidak ada dalil dari Al qur’an maupun hadist yg menerangakan nya.
    Syariat Islam telah sempurna dari segala sisi, tidak perlu adanya pengurangan atau tambahan.

    “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.”
    ( QS : Al Ma’idah ayat 3 )

    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir Radhiyallahu’anhu berkata : Bahwa sesungguhnya Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata di saat beliau berkhutbah :

    “Amma Ba’du, sesungguhnya sebaik-baik berita adalah kitabulloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
    (HR Muslim:867)

    Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan
    Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Sunnah Nabi, mengamalkannya, berpegang teguh dengannya serta membelanya dari para penentang dan musuh-musuhnya. Amin Ya Mujiibas Saa`iliin

    Reply
    • 20. Faiz Yahya  |  May 2, 2009 at 10:15 am

      bUAT yang ngaku Abu Faqih.
      Antum menterjemahkan qur’an dan hadits sangat dangkal sehingga tampak jelas kedangkalan ilmu antum. Beristigfarlah dan bersyahadadat ulang spy antum ttp dalam keadaan Muslim.
      Siapa yang menafsirkan qur’an dan hadits tanpa ilmu, maka neraka lah baginya.

      Reply
  • 21. Faiz Yahya  |  May 2, 2009 at 9:58 am

    Ass. W.
    BISMILLAHIRRROHMANIRROHIM. Allohumma Solli ‘ala Sayyidina wa Mauluna wa Syafiina Muhammad sallahu alaihi wa ala alihi wa sohbihi ajmain.
    SUNGGUH Artikel di atas adalah sampah yang sangat PENUH KEMUNGKARAN dan 1000 PERSEN PENUH DENGAN KEDUSTAAN MENGATASNAMAKAN HABAIB. TIDAK ADA SATU HABAIB PUN DI SELURUH DUNIA YANG ANTI MAULID, DEMIKIAN PULA KAUM MUSLIMIN YANG BERADA DI MANHAJ RASULULLOH. ARTIKEL DIATAS ADALAH REKAAN WAHABIAH DAN KAUM SEJENISNYA YANG SANGAT NYATA ANTI MAULID, ANTI TAHLIL, DAN ANTI ISLAM. NAUDZUBILLAH
    SAYA SERUKAN KAUM MUSLIMAN UNTUK PAGARI IMAN DAN TAUHID DARI PENGARUH IBLIS YANG MENJELMA DALAM GERAKAN WAHABIAH.
    PERINGATAN MAULID SAAT INI WAJIB, SEKALI WAJIB HUKUMNYA KARENA KITA TUJUANNYA UINTUK DAKWAH DAN TARBIYYAH. SIAPA YG ANTI, TUNGGULAH MURKA ALLOH AJJA WAJALLAH.

    Reply
  • 22. ayep  |  May 4, 2009 at 2:17 am

    fais am kita sama bi n yahya… btw selama ana di yaman ada jg jamaah habaib yg ikut2 faham wahabi….tp ana alhamdulillah yang pro ma habib umar bin hafid dan ikut majlisnya beliau…
    BTW SI SUNNY ngawur bgt bilang asal-usul wahabi dari asmaul huna yang al-wahhab????????

    yang ada malah nisbat dari pencetus faham wahabi alias : muhammad bi abdul wahab., yang oleh albani dikatakan bahwa beliau bukan seorang ulama, ( biasa konflik intern dimana-mana ada) saling sok menyalahkan salaf soleh.

    add fs ane http://www.friendster.com/crime
    hadramut@live.com

    Reply
    • 23. Faiz Yahya  |  May 6, 2009 at 11:30 am

      Ahlan ya Akhi… Alhamdulillah semoga kita bisa bersilaturahim, ana juga min cirebon…ana bin muh bin hasyim b umar b toha bin hasan bin yahya…

      Ana lebih suka kita tidak ketemu di blog khottor wa murokbal kamal hada. Tafadol antum sms ke emali ana : fatichalfais@yahoo.com

      Reply
  • 24. Abu Faqih  |  May 4, 2009 at 2:46 pm

    Mas FAIZ YAHYA…

    Maaf anda bilang perayaan Maulid Nabi wajib hukumnya ? Apa yang menjadi dasar anda bilang begitu, Apa ada dalilnya baik dari Al Qur’an maupun Hadist ?
    Soalnya saya orang awam, tapi Ingin beribadah murni dari ajaran Nabi Muhammad SAW

    Reply
    • 25. Faiz Yahya  |  May 6, 2009 at 11:19 am

      Untuk yang ngaku Abu Faqih ……Anda belajar dulu usul fiqih dg benar maka akan tahu apa itu wajib, sunnah, haram, mubah, makruh… Ini penjelasan maulid itu jadi wajib hukumnya…Semoga anda mendapat hidayah Alloh sehingga kembali di jalan Alloh & Rosulnya.

      Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yang diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yang sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yang dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yang mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yang mustahab (yang dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yang menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.
      Contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yang wajib .
      Contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yang hukumnya sunnah.
      Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yang wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dengan Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
      Sebagaimana penulisan Alqur’an yang merupakan hal yang tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yang membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yang wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah. Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yang awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yang masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.

      Reply
  • 26. Abdillah  |  May 12, 2009 at 9:59 pm

    Ada sebagian Orang dalam membela acara-acara bid’ahnya berdalil bahwa dulu para sahabat -Abu Bakar, ‘Utsman bin ‘Affan, Zaid bin Tsabit- saja melakukan bid’ah. Mereka mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf padahal Nabi Muhammad tidak pernah melakukannya. Jika kita mengatakan bid’ah itu sesat, berarti para sahabatlah yang akan pertama kali masuk neraka.

    Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis Al Qur’an, namun penulisannya masih terpisah-pisah.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/97) mengatakan, “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan; dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut bid’ah, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya).”

    kalau memang maulid adalah bentuk syukur, mengapa sejak generasi sahabat hingga imam mazhab yang empat tidak ada yang melakukan perayaan ini [?] Apakah keimanan mereka lebih rendah dibanding orang-orang sekarang yang merayakannya [?]

    Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan: “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

    Ingatlah bahwa dampak berbuat bid’ah sangat besar sekali. Di antaranya adalah pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat kelak, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049). Cukuplah hadits ini membuat kita semakin takut dalam berbuat bid’ah.

    Semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan taufik Allah ke jalan yang lurus. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

    Reply
    • 27. Faiz Yahya  |  May 14, 2009 at 12:06 am

      Untuk Sdr. Abdillah… berikut penjelesan detail ttg apa itu bid’ah..Semoga anda memahaminya (jika dibaca dg hati jernih)..supaya anda puas, dibawah saya kutipkan juga pendapat imam ttg maulid…

      APAKAH BID’AH DI PERBOLEHKAN???
      Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
      Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
      Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :
      “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,
      Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam, Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll,
      berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.
      Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.
      Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah). Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
      Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
      Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
      Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya. Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yang baru, sungguh semua yang Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
      Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
      Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
      Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873). Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

      Bid’ah Dhalalah
      Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul saw. Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat. Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.
      Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya. Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?
      Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yang berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).
      Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”. Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt,
      Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
      Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin
      Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
      1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah
      (Imam Syafii)
      Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
      2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
      “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
      3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
      “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105) Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.
      Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran,
      contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan
      Bid;ah yang Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan
      Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

      Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
      rahimahullah
      Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
      Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

      Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
      1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
      Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG-ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al-Imran 164)
      2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
      Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dengan makanan makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.
      3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
      Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.
      4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
      Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
      5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
      Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
      6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
      Berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.
      7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
      Dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
      8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
      Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang
      pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita
      gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.
      9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
      Dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
      10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi
      Dengan karangan maulidnya yang bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”
      11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
      Dengan maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
      12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
      Yang karangan kitab maulidnya dikenal dengan nama : ”maulid ibn katsir”
      13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
      Dengan maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”
      14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
      Telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Allafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
      15. Imam assyakhawiy
      Dengan maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
      16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
      Dengan maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
      17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan ibn diba’
      Dengan maulidnya addiba’i
      18. Imam ibn hajar al haitsami
      Dengan maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
      19. Imam Ibrahim Baajuri
      Mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dengan nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar
      20. Al Allamah Ali Al Qari’
      Dengan maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
      21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
      Dengan maulidnya yang terkenal maulid barzanji
      23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
      Dengan maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
      24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
      Dengan maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’
      25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
      Dengan maulid al maulid mustofa adnaani
      26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
      Dengan maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”
      27. Syihabuddin Al Halwani
      Dengan maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
      28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
      Dengan maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar
      29. Asyeikh Ali Attanthowiy
      Dengan maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa
      30. As syeikh Muhammad Al maghribi
      Dengan maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
      Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yang menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yang menentang mauled sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yang jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

      Reply
  • 28. rani  |  May 30, 2009 at 11:19 pm

    diprint ajah artikelnya itu, trs dikirim ke Habaib²…
    or linknya ditulis dicomment web mereka…
    sp tw dpt duit, lumayan kan buat bayar inet.
    syukur² dpt pahala…

    Reply
  • 29. rani  |  May 30, 2009 at 11:26 pm

    “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

    berarti dakwah dengan blog dan sebangsanya bid`ah juga ya?
    or gmn? bid’ah hasanah?

    Reply
  • 30. azhyra  |  May 31, 2009 at 11:00 am

    antum lupa,,bid’ah itu ada bid’ah hasanah ada bid’ah dholala

    kalau antum merasa yang diada-adakan adalah bidah,, saya menantang antum untuk hidup sama persis seperti zaman ROSULULLAH SAW

    tdk menggunakan listrik,, memakai pakaian seperti BELIAU,,dll

    pada Zaman ROSULULLAH SAW membaca AL-QURAN tidak memakai tanda baca,, kalau antum membaca AL-QURAN dengan tanda baca, berarti antum melakukan bidah?

    Reply
  • 31. swarajiwaku  |  August 31, 2009 at 12:17 am

    Kalau orang2 kafir nasoro dan yahudi sedang sibuk mencari dan menggali ilmu2 Allah dan rosulnya bahkan termasuk para sahabat dan tabi’in..!!! lha kok..kita malah ribut masalah hilafiyah…!! dan terus apa untungnya…untuk kalian semua…??? khusus bagi para penebar fitnah…..! sungguh azab Allah sangat pedih….! beristigfarlah kalian…!! bagi anda yang merasa risih masalah maulid cukupkan diri anda dengan apa yang anda miliki, dan untuk anda yang gemar maulid sederhanakanlah diri kalian.

    Imam Ghazali menyebutkan bahwa Ilmu yang bermamfaat adalah ilmu yang dapat membawa rasa takut kita kepada Alloh SWT dan menumbuhkan Rasa Cinta/Mahabbah kepada Alloh. Berapa banyak orang yang berilmu namun tidak membawa manfaat baik kepada dirinya maupun kepada manusia lainnya. Berilmu tapi makin jauh dari Alloh , gemar melakukan maksiat, sombong dengan ilmunya,Ambisi terhadap kehidupan dunia, senang berdebat….

    Reply
    • 32. rismaka  |  August 31, 2009 at 12:21 am

      Terima kasih atas nasihatnya.

      Masalah maulid bukan khilafiyah. Telah jelas bahwa peringatan maulid adalah hal baru yang diada-adakan. Setiap hal baru dalam masalah agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.

      Allahu a’lam.

      Reply
  • 33. 13ra  |  November 11, 2009 at 4:32 pm

    Gitu aja kok Repot, salah satu ungkapan jenaka yang saya suka dari Gus Dur

    bismillah,

    Jika yang dimaksud dengan bidah itu adalah hal yang diluar ajaran islam, namanya bidah yang tidak baik,
    Jika Bidah yang dimaksud adalah doa kepada Baginda Muhammad SAW, itu adalah Bidah yang baik

    Dan doa akan sampai kepada yang didoakan dan faedahnya akan kembali ke yang mendoakan, jadi apakah doa itu salah?
    sejak kapan meminta kepada Allah itu diartikan salah

    wassalam

    Reply
    • 34. Shaquille  |  November 11, 2009 at 5:39 pm

      Itu aturan dari mana? Enak aja bikin statement sendiri.

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


CATATAN KECILKU

Assalamu'alaikum.

Selamat datang di Rismaka On WordPress.

Free Page Rank Tool

DOWNLOAD

Download Ebook Islami Bermanhaj Salaf Download Aplikasi Java Islami download update terbaru antivirus PCMAV

Tempat Backup Gratis

dropbox-banner

RSS RISOFTE

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Rismaka’s Weblog

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Shaquille Punya Blog

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Blog Stats

  • 66,841 hits

RSS Download PCMAV Terbaru

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

%d bloggers like this: